JongArsitek! dan mengapa terus harus melangkah!

Pertemuan saya dengan Jongarsitek! adalah secara tak sengaja berawal dari hobby menulis dan aktif sebagai blogger sejak 2006. Jongarsitek! sebenarnya bukanlah wadah yang cukup saya ketahui banyak saat itu. Saya hanyalah tau Paskalis Khrisno Ayodyantoro, fresh graduate yang saya tonton presentasinya di Casa, ak’.sa.ra, Kemang Jakarta beberapa waktu silam. Urbane Fellowship yang dimenangkannya membuat saya iseng menyapa setelah bertemu dengan P.Khrisno.A blog suatu hari. Dan dari boks putih blog itu, ‘pertemuan’ kami telah menemui jalannya sendiri. Mungkin kami memang sebaiknya bertemu, atau tidak sama sekali? Saya tidak tahu. Tapi, dari perbincangan saya dengan Paskal dan Danny Wicaksono–senior saya– saat itu, saya jadi tahu bahwa Jongarsitek! adalah media yang secara garis besar memiliki tujuan untuk mewadahi aspirasi, unek-unek, ide-ide kreatif, pemikiran maupun gagasan yang menyangkut dunia arsitektur, desain ataupun produk kreativitas lain. Dan saya jatuh cinta.

Idealisme yang menyangkut arsitektur, kecintaan terhadap Indonesia, keinginan membawa arsitektur sebagai alat tangguh mempersatukan bangsa, dan keseriusan membentuk wadah untuk semua itu membuat saya tak ragu lagi menyumbang sebuah artikel pada edisi Agustus (klik disini). Arsitektur bagi saya adalah ranah semua bangsa. Ranah untuk terus menerus memperkaya diri, belajar saling menghargai serta belajar melihat kelebihan yang dimiliki setiap pribadi. Jongarsitek! memiliki kualitas manusia-manusia muda dengan pemikiran yang luar biasa, dan kesanalah saya berkelana…

Beberapa proses sempat dilewati, dan atas inisiatif Paskal akhirnya Jongarsitek! mentahbiskan diri sebagai buletin dengan ‘rumah’ sendiri. Dibantu oleh Sandi Mardiansyah, wed designer –teman saya–, semuanya ini terasa sangat mungkin. jongarsitek.com, begitulah tag alamat rumah ini. Mundur beberapa saat dari jadwal yang diinginkan namun akhirnya dengan sangat bahagia jongarsitek.com hadir di sisi kita semua. Bukan hanya untuk dilihat, tapi dibaca dan diresapi maknanya. Dan saya percaya, buletin ini bukanlah buletin yang hanya berisi ideologi-idelogi semata, namun produk empiris yang mampu dipelajari dan diambil sisi baiknya. Sekali lagi, saya percaya arsitek tidak dididik dan belajar untuk hanya jadi tukang bangun. Ketika segala sesuatunya berjalan seimbang, disanalah seorang manusia menjadi ‘arsitek’ yang sesungguhnya.

Kitalah, orang-orang Indonesia muda sebagai perunut jaring laba-laba kehidupan. Di pundak kita ada beban yang sama besar untuk membawa negeri ini menemui celah ‘peradaban’ yang sadar dan berani bercita-cita. Manusia berkualitas. Dan ‘kualitas’ tidak ditentukan oleh darimana kita berasal dan sekolah, namun ‘apa’ dan ‘bagaimana’ hati serta pemikiran kita terus diusik. Belajar menjadi peka dan belajar menjadi manusia berguna. Setidaknya, itulah yang Indonesia kini butuhkan.

Mari bersama terus melangkah.

 

Silakan berkunjung ke rumah : jongarsitek.com

 

Salam.

Comments (2)

make it move!

you like to move your… eh, view points?

iseng-iseng.

jika arsitek sekarang mengompori soal sustainability, there’s one that catch me eyes : movement. bukan movement sebagai pergerakan, seperti emansipasi, namun bergerak. membuat bangunan yang bergerak, yang berputar, jika kita bosan tinggal pencet tombol panel dan zap zap. viewnya pindah!

bagaimana seni sekarang? sudah bukan lagi abstrak, namun tak terpenjara. memanipulasi ide struktur : berotasi, berputar, dan sebagainya! beberapa bangunan memang super ekstrim futuristik! namun idenya boleh lah ditangkap!

more : weburbanist !

Comments (5)

zero.

zero.

kita adalah produk revolusi industri. kita menghidupi diri dengan minyak, minyak dan minyak. presiden amerika Theodore Roosevelt sekitar awal abad 19 pernah berkata bahwa “kita menjadi besar karena mencurahkan penggunaan dari sumber daya kita… namun waktu telah datang untuk bertanya secara serius apa yang akan terjadi ketika hutan-hutan mulai lenyap ketika batubara, besi, minyak dan gas itu menjadi habis…” kini masalahnya tertera dengan jelas, bahwa minyak mulai langka. manusia masih saja berpikir dengan minyak, bagaimana mencari sumber minyak baru, bagaimana menurunkan harga minyak dan seterus-seterusnya. kita semestinya berpikir dengan otak bukan melulu minyak. belum lagi peningkatan substansi lain yang berpengaruh ke iklim secara global, dan lagi racun yang terus kita sedot setiap hari secara berkesinambungan secara sadar atau tidak.

__(’Read the rest of this entry »’)

Comments (5)

selow sedikit. menyampah a bit. and time lapsed digital.

kalau blog ini jadi terlalu serius emang males juga bacanya. ngebales komen juga males apalagi kalau harus berpikir dulu mo nulis apa… belakangan otak gue lagi konslet. kenapa? karna banyak hal masuk secara tiba-tiba, BOOOM!! meledak. duer.

__(’Read the rest of this entry »’)

Comments (4)

« Previous entries