citizen of the world’s rhyme and musing

April 20, 2009

kutipan

Filed under: Uncategorized — gac @ 5:54 pm
Ibu Kita Ken Dedes, Bukan Kartini

Kartini memang lebih maju dari jamannya
Menganggap agama tak lebih lelucon belaka
Menganggap dirinya ‘Anak Buddha’ tapi juga pergi ke gereja
Memeluk Islam tapi benci konsekuensinya
‘Agama kebatinan’ adalah agama sejatinya

Kartini memang bercita-cita luhur
Ingin menghapus budaya Jawa yang ngawur
Ingin mengabdi pada rakyatnya yang hancur
Ingin mendidik bangsanya dengan papan tulis dan kapur

Tapi cita-cita sirna, Kartini telah gagal
Kartini takluk pada rekayasa kolonial
Kartini tunduk pada keperkasaan feodal
Kartini akhirnya malah jadi tumbal
Kartini menyerah dijadikan istri kedua seperti gedibal
Kartini dipermainkan Abendanon dan Sosroningrat yang bengal

7 abad sebelum Kartini muncul di bumi
Pahlawan telah muncul di bumi pertiwi
Ibu kita Ken Dedes putri sejati
Menolak vaginanya dijadikan komoditi
Menghajar laki-laki yang menjunjung patriarki
Tunggul Ametung dan Ken Arok akhirnya terkapar mati
Oleh politik elegan Ken Dedes yang mumpuni

Ibu kita Ken Dedes pahlawan wanita
Menolak tubuhnya dijadikan objek semata
Prajnaparamita yang teguh membela kehormatannya
Laki-laki poligam dan haus kuasa dijadikan mainannya
Ibu raja-raja Jawa yang cantik jelita tapi berotak luar biasa

Sama-sama dipaksa tunduk
Kartini menyerah takluk
Ken Dedes berorkestra mengamuk
…………………………………….
Ibu Kita Ken Dedes, Bukan Kartini
…………………………………….

Sumber :
Panggil Aku Kartini Saja, by Pramudya
Arok Dedes, by Pramudya
Door Duisternis Tot Licht, by Kartini

*diambil dari facebook Muhammad Amin*

March 19, 2009

architect - duties and responsibility

Filed under: Article — gac @ 11:18 pm

Build Ideas

Saya sedang dalam sebuah kelas yang menyenangkan hari ini, ketika seorang dosen tamu diundang untuk memberikan kuliah umum pada jam di kelas studio perancangan saya. Ibu Dian Kusumaningtyas –menurut keterangan beliau ini sudah menjadi Pricipal Architect di biro pribadi yang bekerja untuk beberapa proyek luar negeri– dengan suaranya yang halus membuka kuliah dengan pertanyaan : “Mengapa judulnya architect as a profession?”

Ibu Dian kemudian membuka slidenya yang ditata sederhana dan menampilkan sebuah lukisan luar biasa karya Jean-Michel Basquiat dan di sampingnya berjejer mahakarya arsitek Yahudi Daniel Libeskind. Dan slide inilah yang bercerita banyak.

Jean-Michel Basquiat Daniel Libeskind

Profesi arsitek berdekatan dengan ide. Dan dari ide itulah arsitek menghidupi dirinya sendiri. Saya setuju bahwa ide yang diperoleh setiap orang berbeda dari orang lain karena idea from within : manusia memiliki mimpi dan logical thinking yang berbeda. Setiap orang tidak lantas memiliki pola pikir yang sama karena pola pikir akan sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau pengetahuan yang didapat seseorang dari luar.  Dimana semua aspek itu memebentuk karakter pada persepsi hingga pemahaman manusia terhadap eksistensi individu. Setiap perancang memiliki latar belakang yang menjadi border atau payung untuk logical thinking idea tsb. Terbentuklah pada akhirnya, the languange of architecture : the sign and symbol of architecture.

Note : saya pernah membaca salah satu buku autobiografi Libeskind yang berisi pemikiran-pemikirannya yang keras dan dalam soal WTC. Libeskind juga menjelaskan secara detil tentang latar belakang setiap bangunan yang ia rancang. Serta menceritakan bagaimana politik merupakan proses pemusnahan sebuah ide dalam gerakan yang lambat.

Frank O GehryEdward Munch

Saya adalah pecinta seni, saya menyukai lukisan. Dan dari sekian banyak arsitek ternyata beberapa diantaranya adalah sculpturist. Frank Gehry ketika mendesain the Dancing House di Praha menengok sedikit lukisan-lukisan karya Edward Munch yang juga dibuat Praha. Buat saya, tidak banyak arsitek yang memiliki sense of art spesifik, dan karena itulah tidak banyak pula arsitek yang berani untuk berpikir di luar kotak. Saya mengutip sedikit dari buku Lawrence Joseph “Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari kematian cita rasa seni dan kreativitas yang sudah pasti akan terjadi jika mereka berhasil menjadi penguasa dan menganggap prinsip-prinsip logika sebagai monopoli mereka.” Memang diakui bahwa Indonesia hanya diperbantukan oleh logika dan kenyataan. Sehingga mimpi kadang hanya mengembun saja, tanpa bisa dinikmati dengan mata telanjang.

Jellyfish al manakh, dubai

Inilah salah satu idea reform, dimana ide-ide itu bisa muncul dari banyak hal. Persoalannya bukan lagi pada logika berpikir tapi bagaimana manusia mampu mengartikulasikan setiap hal di sekelilingnya menjadi sumber ide yang tidak terbatas. Intinya adalah bagaimana menjadi peka. Bukan menjadi kreatif.

isamu noguchi rem koolhaas

Architecture Design Today

Design in changing world. Dunia berubah. Dimana traditional thinking menghasilkan banyak persaingan antara kapitalis dan sosialis, develop county versus under develop country. Negara yang memiliki ketahanan ekonomi lebih kuat berusaha membangun kota-kota besarnya agar menjadi salah satu tujuan manusia bekerja, hidup dan menghasilkan lebih banyak uang. Negara berkembang yang akhirnya hanya menjadi pengikut berusaha mati-matian untuk bertahan terhadap citarasa lokalnya namun makin tergerus oleh globalisasi. Global Economy Crisis juga makin memperparah keadaan. Design excessive dipertimbangkan. Krisis juga menyebabkan banyaknya perusahaan mencari cara kreatif untuk bertahan dengan menciptakan alat-alat yang mempercepat proses atau mempermudah pekerjaan. Di situlah manusia diberi bekal untuk dapat berpikir outside the box. Pengembangan teknologi hingga ke tingkat advanced akhirnya memaksa setiap perancang untuk memperbarui kualitas pekerjaannya. Tidak jarang perancang ini terjebak ke dalam trend karena tenggelam dalam perkembangan yang terlalu jauh.

Advanced design ini kemudian berangsur-angsur dipelajari dan semakin ke sini perancang mulai berpikir “menyelamatkan”. Cara pikir ini bukan lagi issue. Tapi harus menjadi proses serta tujuan. Sustainability design product.

The Spire, Chicago, Santiago Calatrava

Saya tergelak dengan pendapat ibu Dian, bahwa munculnya desain bangunan spektakuler di Indonesia menjadi tidak sopan dan ramah secara sosial karena Indonesia masih memiliki rakyat miskin dalam jumlah yang tidak sedikit. Ibu Dian juga menambahkan bahwa Indonesia hanya memerlukan sistem pengolahan lingkungan yang baik, itu sudah cukup. Good design tidak perlu over.

Sustainable Design

3 Poin penting yang kini harus dikuasai seorang arsitek dan perancang adalah desain yang sustainable. Apa itu desain sustainable, bagaimana peran arsitek dalam sustainability dan apa yang kita butuhkan dalam sustainable design.

Sustainable design muncul karena persoalan-persoalan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Saya pernah menulis bagaimana keadaan bumi sekarang yang sudah mulai menurun kualitasnya. Ilmuwan sibuk berspekulasi dan berhitung. Dan secara langsung - tidak langsung hal itu berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan desain saat ini dan di masa depan. Jika excessive design yang sering menjadi ikon  Zaha Hadid berjaya karena manusia tidak sedang dalam rambu bahaya lingkungan hidup, kini kebutuhan manusia akan tempat tinggal yang sustainable lebih diutamakan. Lewat sudah jaman keemasan excessive design.

Di US, motor penggerak utama sustainability adalah CO2 emission yang sudah tinggi kadarnya. CO2 emission ini diproduksi sebagian besar oleh pembangunan. Pembangunan berkaitan dengan pengembang dan arsitek. Sebuah rapat internasional merencanakan penghematan dan penurunan CO2 dalam project Architecture 2030 : CO2 yang ingin diturunkan sebanyak 30%. Sedangkan di Indonesia, sustainabilty hanya berupa persoalan. Tidak banyak orang peduli, bahkan pemerintah yang semestinya ikut berperan aktif menyebarkan pengetahuan ini justru diam di tempat, atau latah mengikuti. Saya pikir ini adalah kebodohan kita paling besar : kita selalu berusaha mengikuti (latah) apa yang sedang trend tanpa paham apa persoalan mendasarnya.

How do we respond?

Hal paling masuk akal yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri. Persiapan ini berkaitan erat dengan education, education dan education. Dan saya percaya bahwa pendidikan yang baik akan menghasilkan bibit-bibit yang peka terhadap ethics, idealism or leadership, quality of life, creativity, preserverance and consistency. Bukankah dengan itulah manusia hidup? Saya jadi ingat kalimat yang diucapkan Oscar Lawalata di sebuah press conference yang saya datangi : “Jangan sampai kita meloncat terlalu jauh ke depan, tapi lupa melihat kekayaan diri sendiri.”

Dan ini semua hanya bisa saya harapkan dari sebuah institusi agung bernama : sekolah.

-gacanti swastika-march09

February 10, 2009

singing after months

Filed under: Uncategorized — gac @ 6:03 pm

http://www.creebobby.com

November 27, 2008

[hanya keluhan] Jakarta is a mall driven zombie-politan!

Filed under: Article, Personal Thoughts — gac @ 11:48 pm

Bagi sekelumit orang issue ini mungkin sudah basi. Tapi saya tergerak untuk menulis karena baru bener-bener saya rasakan belakangan dan saat ini ibu saya sedang berbelanja dan saya gak ada kegiatan lain selain liat orang-orang lalu lalang di mall ini, mending ngetik-ngetik aja.
Ya, Jakarta begitu menyeramkan bagi saya. Mengapa? Karena keinginan saya untuk berlibur bersama kekasih di Jakarta (hometown saya di semarang) akhirnya menjadi tour dari mall ke mall, karena sulitnya mendapatkan public space yang menyenangkan ( gratisan) – ataukah memang deep inside saya adalah mallrats yang pengennya ke mall, hehe entah juga – membuat saya merenung. Menyadari bahwa saya dikelilingi oleh zombie-zombie yang tidak sadar akan ke-zombie-annya sendiri, seperti bruce willis yang gak sadar kalau dia sudah menjadi hantu sampe akhir film di sixth sense. And yet, maybe I’m one of the zombie horde too.

Kami berjalan dari mall ke mall seperti pengembara, memandang pekerja-pekerja, ibu-ibu, anak sma, kakek-nenek, yang bergerak teratur dari counter ke counter, dari lantai ke lantai, memandangi telpon selular di eskalator, menatap laptop di kafe, mangambil atm, menelfon sambil jalan, mata-mata yang terhipnotis oleh gemerlap etalase. Seperti selalu mencari sesuatu, sesuatu yang belum tentu mereka butuhkan. Layaknya zombie b-movie yang selalu lapar, tak pernah puas. Adalah sebuah gaya hidup konsumerisme yang didukung penuh oleh kapitalisme global. Mereka nampaknya tidak sadar jika hal itu memang dikondisikan.Mengutip pernyataan yang memlesetkan ujaran Descartesaku berbelanja maka aku ada” (McKendrick,1982) mendeskripsikan gerombolan zombie ini. Gelombang kapitalisme memang tak mungkin untuk dihindari. Semua aspek kehidupan dapat dikomodifikiasi menjadi produk-produk memanja. Melepaskan diri dari sistem konsumerisme seperti melawan daya gravitasi, nyaris tidak mungkin. Siapa si yang nggak mau dimanja? Dibuai? Banyak yang sadar akan komodifikasi dan labirin konsumerisme ini, tapi mereka tetap membiarkan diri terbawa arus gelombang fantasi yang memang melenakan, membutakan – ya lagi-lagi termasuk saya.

Cerdasnya, kapitalisme mampu melihat celah sekecil mungkin untuk dijadikan peluang. Diantara celah itu adalah waktu luang. Komersialisasi waktu luang terlihat begitu gamblang. Iklan televisi bertubi-tubi mengisi jeda acara, public space yang dapat dinikmati secara gratis pun nyaris tak tersedia, billboard-billboard raksasa menemani yang melamun terkantuk di passengers seat. Terjadi indorisasi, ruang terbuka terkikis oleh hunian vertikal dan shopping mall. Alih-alih berkumpul dengan tetangga, warga Jakarta memilih untuk berjalan-jalan di labirin konsumerisme shopping mall yang memabukkan. Terhipnotis, lalu berbelanja hal-hal yang belum tentu dibutuhkan, membelanjakan makanan yang 5x lipat harga di luaran. Ketika uang habis, pulang.

Public space yang ada pun kehilangan fungsinya sebagai ruang sosialisasi, terutama dengan tersedia fasilitas wifi, orang-orang cenderung membuka laptop atau blackberrynya kemudian bersosialisasi dalam public sphere (habermas, 1960) seperti situs-situs social networking, blogs, milis, forum dll. (IGO anyone?kwkwkw), ketimbang bergaul dengan manusia lain di tempat tersebut. Public space menjadi tempat berkumpul individu-individu yang tidak saling berinteraksi. Menimbulkan gejala baru yaitu ketergantungan pada layar. Layar televisi, hp, computer, laptop, atm, bioskop, dll. Ruang dimana kita berada menjadi tidak terasa nyata, ruang lebih terbentuk pada proyeksi layar-layar tersebut, Kehidupan sosio-kultural menjadi beralih ke ruang-ruang virtual yang ideal (baca bukunya pak piliang mengenai layar, membahas ini sampai tuntastastas-penulis)

Bodohnya, stakeholder (pengembang dan pemerintah) tidak pernah berpikir panjang. Semua kebijakan dibuat untuk memperkaya diri sendiri dan kebutuhan-kebutuhan jangka pendek, kebijakan-kebijakan pun cenderung reaktif tanpa perencanaan matang. Proyek yang direalisasikan adalah yang membawa keuntungan besar, public space yang tidak menghasilkan uang diruntuhkan. Sehingga selamat! Jakarta menjadi kota mall! Dikatakan “ketika mall menggantikan ruang public sebagai tempat bertemu warga, maka kota telah menunjukkan gejala kota sakit” (halim,2008). Keberadaan mall yang berlebihan jumlahnya di Jakarta ini memperparah kesenjangan sosial. Warga kaya dan miskin kehilangan tempat berinteraksi (pasar tradisional misal, masih memungkinkan adanya interaksi tawar-menawar, dan lebih plural penjual dan pembelinya). Timbul kecemburuan sosial dimana warga miskin tidak mampu untuk berbelanja di mall, dan mereka kehilangan tempat untuk berbelanja dan berjualan (pasar tradisional semakin tergerus oleh karfur,hypermart, bahkan pemain lokal seperti indomaret dan alfamart menusuk ke tiap sudut – teman saya sampe curiga kalau indomaret dan alfamart sebenarnya adalah invasi alien berkedok mini market untuk menguasai bumi*d’oh), bukan hanya tempat belanja, tempat tinggal pun digusur demi proyek-proyek superblok. Pemerintah nyaris tidak menganggap warga miskin itu ada, hingga tersingkir ke ruang-ruang sisa (bantaran sungai, kolong jembatan, kolong jalan layang), rusunawa/rusunami pun setengah-setengah dilaksanakan, benar-benar tidak termenej. Interaksi antara warga kaya dan miskin secara ekstrim hanya terjadi pada jendela mobil, dimana si miskin meminta-minta dan si kaya was-was akan ancaman kriminalitas. Polusi, kemacetan, banjir yang dipengaruhi oleh pembangunan juga menambah pelik pelipurlara permasalahan.

Diawali dengan runtuhnya kuasa sosialisme pada akhir 90-an membuat faham kapitalisme merasa menjadi pemenang. Menjadi ideologi sahih yang dipercaya membawa kemakmuran. Amerika menjadi kiblat. IMF,WTO tumbuh menjadi taring sang predator. Mengarahkan manusia pada Ketamakan, ya Ketamakan dengan K besar,

Kapitalisme = Ketamakan,
Kapitalisme Global = Ketamakan Mendunia.

(Gak heran juga di oprah sering dibilang, obesitas adalah penyakit momok nomer 1 amerika, rakus sih bo –generalisasi bodoh. Maaf. Hehe)

Pemerintah tentunya tidak sempat berpikir pentingnya kenyamanan warganya, tentu lebih utama pundi-pundi uang yang mengalir ke brankas jika ada proyek mall dan sejenis dibandingkan proyek penghijauan kota dan public space yang bisa dinikmati warga secara gratis – yang dianggap kurang menguntungkan tentunya.

Dikatakan lagi bahwa “hubungan sosial warga dengan segala keragamannya adalah intisari kehidupan sebuah kota” (halim,2008).

Kota yang baik adalah yang membahagiakan warganya. Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan pendapatan perkapita, melainkan juga mencakup mental-spiritual. Kapitalisme global membuat takaran kebahagiaan melulu materi. Dan kita kita disetir menuju itu. Yang kelama-lamaan akan mereduksi ketahanan dan kemampuan jiwa manusia menjadi jiwa-jiwa manja yang ingin serba instan dan pragmatis – lihat penghuni Axiom di film Wall-E, generasi pemalas yang dimanja teknologi, gak beda jauh dengan seonggok daging glonggongan. Itu baru dilihat dari segi manusianya. Belum lagi segi lingkungan alam yang terperkosa, rusaknya equilibrium Gaia. Perancangan anthroposentris terbukti malah menjerumuskan manusia. Alam menjadi murka. Saya percaya akan sifat reflektif dari alam, ketika kita memperlakukan dia dengan buruk, dia akan memperlakukan kita dengan buruk. Jika kita memperlakukan dia dengan baik, dia akan memperlakukan kita dengan baik pula. Builder seharusnya adalah bak seorang shaman, mampu berdialog secara intersubjektif dengan site tempat ia membangun maupun dengan klien, merupakan penghubung keinginan dan kebutuhan site, klien, dan dirinya sendiri. Mampu menyamakan frekuensi sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dan rusak keseimbangannya secara fisik, maupun mental-spiritual. Alih-alih, perhatian stakeholder pada kebahagiaan manusia saja belum utuh, apalagi pada alam, makin jauh terlupakan..

Setiap senin dibacakan,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sudah lupakah kita?

Kini Jakarta pelahan hilang jiwanya

Bambang-di dopod lungsuran.citos.jakarta,nov-2008
Ps : ndut, hari ini gak usah ke mall ya, kamarmu nampaknya lebih nyaman.. heheheBacaan rujukan :
halim, dk. psikologi lingkungan perkotaan.2008
stiglitz, joseph. the roaring nineties
piliang, yasraf amir. lupa judulnya, ada layar-layarnya gitu
s, tatang. gejolak kamar 103
nick carter saga.
Tabloid harmonis, eXotica

Author : Bambang Rahmantyo

Older Posts »

Powered by WordPress